Social Items


Pada umumnya petrologis tidak mengkomunikasikan jenis batuan dalam jumlah dan angka, mereka membutuhkan nomenklatur khusus, yang konsisten, yang membagi spekturm komposisi batuan yang luas ini menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, seperti halnya negara dibagi menjadi kabupaten dan distrik untuk tujuan administratif.
Batuan Beku. Klasifikasi.

Nomenklatur batuan beku saat ini mengacu pada tiga jenis pengamatan, yang masing-masing dapat mempengaruhi nama batuan:

  • Pengamatan petrografi kualitatif (misalnya ada atau tidak adanya kuarsa);
  • Data petrografi kuantitatif (misalnya persentase kuarsa dalam batuan);
  • Komposisi kimia (misalnya posisi dalam diagram TAS).

Klasifikasi batuan beku secara kualitatif - ukuran butir


Gambar 1 menunjukkan bagaimana batuan beku dibagi menjadi tiga kategori; berbutir kasar, sedang dan halus, berdasarkan perkiraan kualitatif (atau semi kuantitatif) dari rata-rata ukuran butir masa dasar pada batuan (bukan ukuran fenokris). Perkiraan ini dapat dilakukan pada pengamatan megaskopis (hand-specimen) atau mikroskopis (sayatan tipis). Berdasarkan kategori ukuran butir, maka pada batuan basaltik, misalnya; berbutir halus dapat disebut basal, berbutir sedang dapat disebut dolerite (UK) atau diabas (US), dan berbutir kasar dapat disebut gabro.

klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral
Gambar 1. Klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral masa dasar. Batas antara berbutir sedang dan berbutir kasar (3mm) mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada acuan lain, misalnya, Cox et al., (1988) menggunakan 5mm.

Contoh lain dari pengamatan kualitatif yang digunakan dalam pengklasifikasian batuan beku adalah kehadiran kuarsa atau nepheline dalam batuan, yang menunjukkan apakah batuan tersebut silica-oversaturated atau silica-undersaturated.

Klasifikasi berdasarkan proporsi mineral - indeks warna


Kata sifat seperti 'ultramafic' dan 'leucocratic' mengacu pada proporsi relatif dari mineral-mineral gelap dan terang yang terdapat pada batuan beku, di mana 'gelap' dan 'terang' berhubungan dengan kenampakan mineral pada pengamatan hand-specimen, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Mineral gelap dikenal sebagai mineral mafik atau ferromagnesian; mineral terang juga dikenal sebagai mineral felsic. Persentase mineral gelap digunakan sebagai indeks warna pada batuan beku.

klasifikasi batuan beku berdasarkan indeks warna dan presentase mineral gelap terang
Gambar 2. Klasifikasi batuan beku berdasarkan presentase mineral gelap dan terang yang teramati pada pengamatan hand-specimen atau sayatan tipis.

Perhitungan kuantitatif dari proporsi mineral pada sayatan tipis mengandalkan teknik yang dikenal sebagai point counting. Teknik ini menggunakan perangkat khusus pada stage mikroskop, yang dapar memindahkan slide sayatan tipis bergerak maju/mundur pada arah X dan Y. Perhitungan dilakukan mulai dari titik dekat salah satu sudut slide, geologist mengidentifikasi mineral pada setiap titik (mengacu pada cross-hair microskop) saat sayatan tipis berpindah secara sistematis di atas stage, kemudian mencatat jumlah 'klik' dari setiap mineral yang teramati.

Setelah memperoleh titik data yang mencakup seluruh area permukaan dari sayatan tipis, persentase masing-masing mineral dapat dengan mudah dihitung. Karena persentase yang dihitung proporsional dengan luas agregat dari setiap mineral pada permukaan slide, metode tersebut menentukan proporsi mineral relatif berdasarkan volume, bukan berdasarkan massa. Karena sebagian besar mineral gelap secara signifikan lebih padat daripada mineral terang, maka hal yang harus diingat adalah proporsi mineral yang ditentukan dengan metode ini akan berbeda jika dibandingkan dengan hasil analisis geokimia.

Klasifikasi berdasarkan komposisi kimia - asam versus basa


Klasifikasi batuan beku yang pertama kali saya ketahui saat belajar geologi adalah klasifikasi yang membagi batuan menjadi ultrabasa, basa, intermediet dan asam. Klasifikasi ini didasarkan pada kandungan SiO2 dari batuan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (berdasarkan nilai yang diadopsi oleh International Union of Geological Sciences - IUGS). Klasifikasi ini membutuhkan analisis geokimia, dan inilah letak kekurangannya. Klasifikasi ini tidak dapat digunakan untuk menginterpretasikan batuan ketika saat berada di lapangan atau saat observasi di bawah mikroskop.

klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika SiO2
Gambar 3. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika (SiO2). Batas antara intermediet dan asam (63% SiO2) dalam klasifikasi ini mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada konvensi sebelumnya penempatan batasnya berada pada 65%. Analisis yang digunakan untuk menentukan apakah suatu sampel bersifat ultrabasa, basa, intermediet atau asam harus terlebih dahulu dihitung ulang secara volatile-free.

Penting untuk diketahui bahwa perbedaan yang jelas antara kandungan silika pada batuan (yang biasanya terletak antara 40% dan 75%) dan kandungan kuarsa (kurang dari 30%, atau bahkan tidak ada): silika (SiO2) adalah komponen kimia yang terkandung pada semua mineral silikat, sedangkan kuarsa (yang memiliki komposisi yang sama, SiO2) adalah sebuah mineral dengan komposisi dan struktur kristal khusus. Kuarsa adalah surplus SiO2 pada magma, kuarsa terbentuk dari sisa silika saat setelah semua mineral silikat lainnya telah menyerap bagian dari silika yang ada. Maka dari itu, istilah 'silicic', merupakan istilah yang kurang tepat, yang secara luas digunakan untuk menggambarkan sifat 'asam'.
***

Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan 3 Jenis Pengamatan - Kualitatif, Kuatitatif, dan Komposisi Kimia

EFBUMI.NET
Pada umumnya petrologis tidak mengkomunikasikan jenis batuan dalam jumlah dan angka, mereka membutuhkan nomenklatur khusus, yang konsisten, yang membagi spekturm komposisi batuan yang luas ini menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, seperti halnya negara dibagi menjadi kabupaten dan distrik untuk tujuan administratif.
Batuan Beku. Klasifikasi.

Nomenklatur batuan beku saat ini mengacu pada tiga jenis pengamatan, yang masing-masing dapat mempengaruhi nama batuan:

  • Pengamatan petrografi kualitatif (misalnya ada atau tidak adanya kuarsa);
  • Data petrografi kuantitatif (misalnya persentase kuarsa dalam batuan);
  • Komposisi kimia (misalnya posisi dalam diagram TAS).

Klasifikasi batuan beku secara kualitatif - ukuran butir


Gambar 1 menunjukkan bagaimana batuan beku dibagi menjadi tiga kategori; berbutir kasar, sedang dan halus, berdasarkan perkiraan kualitatif (atau semi kuantitatif) dari rata-rata ukuran butir masa dasar pada batuan (bukan ukuran fenokris). Perkiraan ini dapat dilakukan pada pengamatan megaskopis (hand-specimen) atau mikroskopis (sayatan tipis). Berdasarkan kategori ukuran butir, maka pada batuan basaltik, misalnya; berbutir halus dapat disebut basal, berbutir sedang dapat disebut dolerite (UK) atau diabas (US), dan berbutir kasar dapat disebut gabro.

klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral
Gambar 1. Klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral masa dasar. Batas antara berbutir sedang dan berbutir kasar (3mm) mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada acuan lain, misalnya, Cox et al., (1988) menggunakan 5mm.

Contoh lain dari pengamatan kualitatif yang digunakan dalam pengklasifikasian batuan beku adalah kehadiran kuarsa atau nepheline dalam batuan, yang menunjukkan apakah batuan tersebut silica-oversaturated atau silica-undersaturated.

Klasifikasi berdasarkan proporsi mineral - indeks warna


Kata sifat seperti 'ultramafic' dan 'leucocratic' mengacu pada proporsi relatif dari mineral-mineral gelap dan terang yang terdapat pada batuan beku, di mana 'gelap' dan 'terang' berhubungan dengan kenampakan mineral pada pengamatan hand-specimen, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Mineral gelap dikenal sebagai mineral mafik atau ferromagnesian; mineral terang juga dikenal sebagai mineral felsic. Persentase mineral gelap digunakan sebagai indeks warna pada batuan beku.

klasifikasi batuan beku berdasarkan indeks warna dan presentase mineral gelap terang
Gambar 2. Klasifikasi batuan beku berdasarkan presentase mineral gelap dan terang yang teramati pada pengamatan hand-specimen atau sayatan tipis.

Perhitungan kuantitatif dari proporsi mineral pada sayatan tipis mengandalkan teknik yang dikenal sebagai point counting. Teknik ini menggunakan perangkat khusus pada stage mikroskop, yang dapar memindahkan slide sayatan tipis bergerak maju/mundur pada arah X dan Y. Perhitungan dilakukan mulai dari titik dekat salah satu sudut slide, geologist mengidentifikasi mineral pada setiap titik (mengacu pada cross-hair microskop) saat sayatan tipis berpindah secara sistematis di atas stage, kemudian mencatat jumlah 'klik' dari setiap mineral yang teramati.

Setelah memperoleh titik data yang mencakup seluruh area permukaan dari sayatan tipis, persentase masing-masing mineral dapat dengan mudah dihitung. Karena persentase yang dihitung proporsional dengan luas agregat dari setiap mineral pada permukaan slide, metode tersebut menentukan proporsi mineral relatif berdasarkan volume, bukan berdasarkan massa. Karena sebagian besar mineral gelap secara signifikan lebih padat daripada mineral terang, maka hal yang harus diingat adalah proporsi mineral yang ditentukan dengan metode ini akan berbeda jika dibandingkan dengan hasil analisis geokimia.

Klasifikasi berdasarkan komposisi kimia - asam versus basa


Klasifikasi batuan beku yang pertama kali saya ketahui saat belajar geologi adalah klasifikasi yang membagi batuan menjadi ultrabasa, basa, intermediet dan asam. Klasifikasi ini didasarkan pada kandungan SiO2 dari batuan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (berdasarkan nilai yang diadopsi oleh International Union of Geological Sciences - IUGS). Klasifikasi ini membutuhkan analisis geokimia, dan inilah letak kekurangannya. Klasifikasi ini tidak dapat digunakan untuk menginterpretasikan batuan ketika saat berada di lapangan atau saat observasi di bawah mikroskop.

klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika SiO2
Gambar 3. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika (SiO2). Batas antara intermediet dan asam (63% SiO2) dalam klasifikasi ini mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada konvensi sebelumnya penempatan batasnya berada pada 65%. Analisis yang digunakan untuk menentukan apakah suatu sampel bersifat ultrabasa, basa, intermediet atau asam harus terlebih dahulu dihitung ulang secara volatile-free.

Penting untuk diketahui bahwa perbedaan yang jelas antara kandungan silika pada batuan (yang biasanya terletak antara 40% dan 75%) dan kandungan kuarsa (kurang dari 30%, atau bahkan tidak ada): silika (SiO2) adalah komponen kimia yang terkandung pada semua mineral silikat, sedangkan kuarsa (yang memiliki komposisi yang sama, SiO2) adalah sebuah mineral dengan komposisi dan struktur kristal khusus. Kuarsa adalah surplus SiO2 pada magma, kuarsa terbentuk dari sisa silika saat setelah semua mineral silikat lainnya telah menyerap bagian dari silika yang ada. Maka dari itu, istilah 'silicic', merupakan istilah yang kurang tepat, yang secara luas digunakan untuk menggambarkan sifat 'asam'.
***

No comments

Terimakasih sudah membaca artikel ini.