Social Items

Finally after 7 years. Saya Lulus Teknik Geologi

Gorontalo, 26 Agustus 2016 // Ya! Itu adalah hari dimana saya mempertahankan skripsi saya di depan dua dosen pembimbing dan tiga dosen penguji dalam ujian sidang sarjana Prodi Teknik Geologi - Universitas Negeri Gorontalo. Mungkin mendapatkan predikat lulus dalam BSc degree bukan hal yang besar bagi banyak orang. Tapi tidak bagi saya.

Saya adalah salah satu dari empat belas mahasiswa angkatan pertama yang mendaftar masuk jurusan ini. Jurusan yang terbilang langka pada saat itu (tahun 2009). Selama tujuh tahun lebih menjalani kuliah. Menyelesaikan skripsi dalam empat semester tentunya bukan hal yang mudah bagi saya. Banyak rintangan telah dilalui, banyak kerja keras telah dilakukan, dan banyak rasa sakit yang saya dapatkan. Sekarang saya bersyukur sekali telah lulus ujian sidang skripsi, setidaknya bisa sedikit mengurangi beban orang tua membiayai kuliah saya.

Pada saat menunaikan ujian sidang, jujur saya sangat gugup, gelisah dan tidak tenang. Namun berkat kekuatan bismillah, semua bisa teratasi. Begitu masuk ruangan, saya diperhadapkan dengan lima orang dosen, dua diantaranya adalah pembimbing dan tiga dosen lainnya adalah penguji. Beliau-beliau berasal dari UNG dan ITB. Meskipun tidak menggunakan LCD projector, karena pada saat itu ada pemadaman listrik di kawasan kampus, alhamdulillah presentasi saya berjalan dengan lancar.

Setelah presetasi, tibalah masuk pada sesi pembantaian, hehe... Maksud saya sesi pertanyaan dari dosen pembimbing dan penguji. Suasana yang saya rasakan pada saat itu semakin menegangkan. Saya mencoba menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan. Satu banding lima! Namun, menurut saya, semakin banyak penguji, semakin baik hasil akhirnya, karena kita menerima kritikan dan masukan dari banyak pihak.

Di sesi akhir saya dipersilakan menunggu di luar ruangan, menunggu keputusan nilai yang layak saya dapatkan. Suddenly, saya teringat orang tua, terutama ibu. Sebagai seorang anak, saya harus membawa berita baik saat berada di rumah nanti. Berita yang telah ibu nantikan sejak tujuh tahun yang lalu. Saya terenung, nafas mulai terasa sesak, dan mata pun mulai berkaca-kaca.

Kemudian saya dipanggil lagi masuk ke ruang ujian. Penguji dan pembimbing memutuskan bahwa saya lulus sidang skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan, yaitu nilai A. Saya sangat senang mendengar berita tersebut. Namun, saya bukanlah pelajar yang lebih mementingkan nilai dari pada pemahaman. Karena menurut saya, jika kita sudah paham dengan bidang yang kita pelajari, maka nilai akan datang sendiri. Begitu juga selama saya mengikuti kuliah, saya tidak fokus pada nilai, saya fokus pada ilmu yang diberikan dosen. Saya harus paham! Karena saat kerja nanti, bos kita tidak akan bertanya berapa nilai kita, yang dituntut adalah kemampuan kita dalam bekerja. Bukan begitu bukan? Hehe

Satu tahap sudah terlewati berganti dengan tahap lain yang harus dijalani. Begitulah cerita singkat pengalaman saya mengikuti ujian sidang skripsi. Saya akan terus berusaha dan berdoa demi masa depan yang baik. Semua akan indah pada waktunya, meskipun harus dijalani selama tujuh tahun lamanya.

Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Ibu dosen Geologi UNG dan ITB yang selama ini telah sabar dan meluangkan waktu berharganya untuk mendidik saya menjadi pelajar yang lebih baik.

UJIAN SIDANG SKRIPSI GEOLOGI - EFBUMI - EBAY FEBRYANT

Finally, After 7 Years - Saya Lulus Juga!

EFBUMI.NET
Finally after 7 years. Saya Lulus Teknik Geologi

Gorontalo, 26 Agustus 2016 // Ya! Itu adalah hari dimana saya mempertahankan skripsi saya di depan dua dosen pembimbing dan tiga dosen penguji dalam ujian sidang sarjana Prodi Teknik Geologi - Universitas Negeri Gorontalo. Mungkin mendapatkan predikat lulus dalam BSc degree bukan hal yang besar bagi banyak orang. Tapi tidak bagi saya.

Saya adalah salah satu dari empat belas mahasiswa angkatan pertama yang mendaftar masuk jurusan ini. Jurusan yang terbilang langka pada saat itu (tahun 2009). Selama tujuh tahun lebih menjalani kuliah. Menyelesaikan skripsi dalam empat semester tentunya bukan hal yang mudah bagi saya. Banyak rintangan telah dilalui, banyak kerja keras telah dilakukan, dan banyak rasa sakit yang saya dapatkan. Sekarang saya bersyukur sekali telah lulus ujian sidang skripsi, setidaknya bisa sedikit mengurangi beban orang tua membiayai kuliah saya.

Pada saat menunaikan ujian sidang, jujur saya sangat gugup, gelisah dan tidak tenang. Namun berkat kekuatan bismillah, semua bisa teratasi. Begitu masuk ruangan, saya diperhadapkan dengan lima orang dosen, dua diantaranya adalah pembimbing dan tiga dosen lainnya adalah penguji. Beliau-beliau berasal dari UNG dan ITB. Meskipun tidak menggunakan LCD projector, karena pada saat itu ada pemadaman listrik di kawasan kampus, alhamdulillah presentasi saya berjalan dengan lancar.

Setelah presetasi, tibalah masuk pada sesi pembantaian, hehe... Maksud saya sesi pertanyaan dari dosen pembimbing dan penguji. Suasana yang saya rasakan pada saat itu semakin menegangkan. Saya mencoba menjawab satu per satu pertanyaan yang diajukan. Satu banding lima! Namun, menurut saya, semakin banyak penguji, semakin baik hasil akhirnya, karena kita menerima kritikan dan masukan dari banyak pihak.

Di sesi akhir saya dipersilakan menunggu di luar ruangan, menunggu keputusan nilai yang layak saya dapatkan. Suddenly, saya teringat orang tua, terutama ibu. Sebagai seorang anak, saya harus membawa berita baik saat berada di rumah nanti. Berita yang telah ibu nantikan sejak tujuh tahun yang lalu. Saya terenung, nafas mulai terasa sesak, dan mata pun mulai berkaca-kaca.

Kemudian saya dipanggil lagi masuk ke ruang ujian. Penguji dan pembimbing memutuskan bahwa saya lulus sidang skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan, yaitu nilai A. Saya sangat senang mendengar berita tersebut. Namun, saya bukanlah pelajar yang lebih mementingkan nilai dari pada pemahaman. Karena menurut saya, jika kita sudah paham dengan bidang yang kita pelajari, maka nilai akan datang sendiri. Begitu juga selama saya mengikuti kuliah, saya tidak fokus pada nilai, saya fokus pada ilmu yang diberikan dosen. Saya harus paham! Karena saat kerja nanti, bos kita tidak akan bertanya berapa nilai kita, yang dituntut adalah kemampuan kita dalam bekerja. Bukan begitu bukan? Hehe

Satu tahap sudah terlewati berganti dengan tahap lain yang harus dijalani. Begitulah cerita singkat pengalaman saya mengikuti ujian sidang skripsi. Saya akan terus berusaha dan berdoa demi masa depan yang baik. Semua akan indah pada waktunya, meskipun harus dijalani selama tujuh tahun lamanya.

Terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Ibu dosen Geologi UNG dan ITB yang selama ini telah sabar dan meluangkan waktu berharganya untuk mendidik saya menjadi pelajar yang lebih baik.

UJIAN SIDANG SKRIPSI GEOLOGI - EFBUMI - EBAY FEBRYANT

No comments

Terimakasih sudah membaca artikel ini.