Social Items

Bermula dari René Descartes (1596–1650) naturalis asal Prancis adalah ilmuwan pertama yang mempelajari komposisi interior bumi. Dalam bukunya "Principia philosophiae" (1644) menjelaskan bumi memiliki inti yang berupa cairan panas yang mirip dengan matahari dan terbungkus oleh lapisan batuan, material logam, air dan udara (Bonatti, 1994). Naturalis Denmark Niels Stensen, alias Nicolaus Steno (1638–1686), menemukan batuan dapat terdeformasi dan kemudian dapat direkonstruksi untuk mengetahui posisi atau bentuk awal batuan tersebut (Steno, 1669).
Principia philosophiae - Komposisi interior bumi

Peter Simon Pallas (1777), James Hutton (1795), dan Leopold von Buch (1824), mereka adalah ilmuan yang menganggap gaya intrusi magma sebagai penyebab utama dari pembentukan gunung, dan kemudian mencetus tektonik sebagai cabang ilmu pengetahuan yang independen. Mereka mencatat batuan jenis granit adalah yang umum ditemukan di sepanjang poros tengah dari deretan pegunungan. Teori tersebut berlawanan dengan konsep gaya horizontal, yang menyatakan gunung-gunung terbentuk dari kompresi dan pelipatan kerak bumi, yang dipahami oleh banyak ahli geologi. De Saussure (1796) dan Hall (1815) adalah yang pertama mengusulkan gaya horizontal adalah pendorong utama dari pembentukan gunung. Konsep ini kemudian dikuatkan dengan ditemukannya sesar anjak (Nappe) di Pegunungan Alpen.

"Nappe, in Geology. A sheetlike, allochthonous rock unit that is formed by thrust faulting or recumbent folding or both." (McGraw Hill, 2003)

Nappe - Sesar Anjak
Nappe - Sesar Anjak (sumber: common.wikimedia.org)

Konsep gaya horisontal umumnya dianggap sebagai bentuk dari kontraksi yang menghasilkan kompresi kerak bumi (Élie de Beaumont, 1852). Hipotesis kontraksi ini didasarkan pada konsep bumi yang awalnya terdiri dari magma, kemudian mendingin dan menyusut secara perlahan. Kontraksi tektonik dimanifestasikan dalam teori geosinklin (Dana, 1873), yang mengasumsikan batuan sedimen, yang sekarang terlipat di deretan pegunungan, semula diendapkan dalam palung laut yang luas dan merata. Endapan sedimen geosinklin biasanya lebih tebal jika dibandingkan dengan endapan sedimen kraton pada umur geologi yang sama. Dana (1873) menganggap amblesnya palung laut, pelipatan sedimen dan pembentukan gunung adalah sebagai akibat dari kontraksi bumi. Teori geosinklin pun tersebar luas di kalangan peneliti dunia (mis., Stille, 1913), kemudian dikembangkan dengan munculnya definisi-definisi baru dan berbeda tentang geosinklin. Konsep kontraksi bumi hanya bertahan sampai pada abad ke-20, dan mulai tidak diterima hingga sekarang karena konsep ini bertentangan dengan sebagian besar penemuan terbaru yang berkaitan dengan asal usul dan sejarah bumi. Bahkan malah sebaliknya, bumi bukannya menyusut, diameter sebenarnya meningkat perlahan karena gesekan pasang surut yang memperlambat kecepatan rotasi bumi, yang saat ini, sekitar 16 juta per detik per tahun. Pada awal Kambrium sekitar setengah miliar tahun yang lalu, satu hari hanya berdurasi dua puluh satu jam empat puluh lima menit, atau dua seperempat jam lebih pendek dari durasi sekarang, dan satu tahun bisa mencapai 400 hari lamanya.

Teori Geosinklin - Dana 1873
Teori Geosinklin (Dana, 1873)

Konsep pembentukan pegunungan terjadi secara bertahap dan bersifat global pada saat yang sama, didukung oleh Élie de Beaumont (1852) meskipun Lyell (1833) sebelumnya pernah berargumen dengan tegas menentangnya. Teori ini mengasumsikan peristiwa tektonik yang menyebabkan pelipatan di deretan pegunungan terjadi secara global dalam fase temporal yang sangat terbatas. Teori ini terus-menerus dikembangkan dan didiskusikan oleh Stille (1913 dan publikasi setelahnya). Namun kemudian konsep fase tektonik ini mulai tidak diterima, banyak peneliti dunia sepakat bahwa proses tektonik cenderung menciptakan peristiwa pembentukan deretan pegunungan yang relatif luas dan sinkron.

Perdebatan ilmiah tentang apakah gaya vertikal ataukah gaya horizontal sebagai pendorong utama pembentukan pegunungan perlahan diselesaikan dengan banyaknya laporan penelitian berikutnya yang cenderung membuktikan gaya horizontal adalah yang dominan. Namun perlu dipahami, gaya-gaya ini berasal dari dinamika lempeng tektonik dan bukan dari konsep kontraksi bumi. Pengangkatan deretan pegunungan merupakan proses sekunder yang diinduksi oleh gaya horizontal kerak bumi.

Pada awal abad ke-20, kemajuan signifikan teori tektonik dikembangkan melalui penelitian struktur geologi dari singkapan-singkapan sesar anjakan dan pola batuan di Pegunungan Alpen (Lugeon, 1902; Termier, 1904). Sesar anjak ini disebut “nappe” dan merupakan karakteristik dari hampir semua pegunungan. Hal ini memperkuat bahwa pegunungan adalah zona kompresi dan pemendekan kerak bumi, lebih jauh lagi, hasil dari penyelidikan geofisika menunjukkan bahwa kerak benua di daerah pegunungan secara signifikan menebal dan memendek. Kerak benua yang menebal di daerah pegunungan ini jauh lebih ringan daripada lapisan mantel yang ada di bawahnya, menurut prinsip isostasi, gaya apung (buoyancy) relatif meningkat mengikuti ketinggian topografi. Hubungan antara pemendekan dan penebalan kerak bumi sangat kompleks dan penting untuk memahami peristiwa tektonik dari pembentukan deretan pegunungan.

Tiga jenis isostasi. Pratt isostasy, Airy isostasy, Flexural isostasy.
Tiga jenis isostasi. a) Pratt isostasy b) Airy isostasy c) Flexural isostasy.

Referensi:
  • Bonatti E (1994) The Earth’s mantle below the oceans. Scientific American 270/3: 26–33 
  • Buch LC von (1824) Über geognostische Erscheinungen im Fassathal. Von Leonard’s Mineralogisches Taschenbuch 1824: 396–437 
  • Dana JD (1873) On some results on the Earth’s contraction from cooling, including a discussion of the origin of mountains and the nature of the Earth’s interior. Am J Sci, Ser 3, 5: 423–443 
  • Descartes R (1644) Principia philosophiae 
  • Élie de Beaumont JB (1852) Notice sur les systèmes des montagnes. 3 vol, Paris 
  • Hall J (1815) On the vertical position and the convolutions of certain strata and their relation with granite. Trans R Soc Edinburgh 7: 79–85 
  • Hutton J (1795) Theory of the Earth with Proofs and Illustrations. 2nd vol, Cadell, Davies and Creech, London-Edinburgh 
  • Lugeon M (1902) Les grandes nappes de recouvrement des Alpes du Chablais et de la Suisse. Bull Soc Géol France, 4ème Sér, 1: 723–823 
  • Lyell C (1833) Principles of Geology. Bd 3, John Murray, London, 398 pp 
  • McGraw-Hill Dictionary of Scientific and Technical Terms (2003) New York: McGraw-Hill 
  • Pallas PS (1777) Observation sur la Formation des Montagnes. St Petersburg 
  • Saussure HB de (1796) Voyages dans les Alpes. Bd. 4, Fauche-Borel, Neuchâtel 
  • Steno N (Stensen N) (1669) De solido intra solidum naturaliter contento dissertationis prodromus. Florence 
  • Stille H (1913) Tektonische Evolution und Revolution in der Erdrinde. Veit, Leipzig 
  • Termier P (1904) Les nappes des Alpes orientales et la synthèse des Alpes. Bull Soc Géol France, 4ème Sér, 3: 711–765

Awal Pemikiran Tentang Tektonik Sebelum Abad ke-20

Pelajar, akademisi dan peneliti perlu melakukan review makalah ilmiah yang relevan dalam kegiatan penelitian maupun saat menyusun thesis. Makalah adalah publikasi khusus yang ditulis oleh para ilmuwan untuk dibaca oleh peneliti lain, dan merupakan sumber utama yang diperlukan untuk penelitian karena data ini berisi deskripsi rinci tentang hasil dan eksperimen terbaru. Beberapa makalah mungkin dapat ditemukan di perpustakaan (online / offline) universitas di mana kita berafiliasi, tetapi tidak semua universitas bisa menyediakan akses langsung ke jurnal-jurnal yang memiliki paywall, terlebih bagi independent researcher yang tidak memiliki akses sama sekali. Untuk itu, postingan ini coba memberikan solusi dengan memberikan informasi situs-situs yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan makalah penelitian dan artikel ilmiah.

Unpaywall adalah situs web yang dibuat oleh Impactstory, sebuah organisasi nirlaba yang berupaya menjadikan sains lebih terbuka dan dapat digunakan kembali secara online. Mereka didukung oleh hibah dari National Science Foundation dan Alfred P. Sloan Foundation. Apa yang mereka lakukan adalah mengumpulkan semua artikel yang mereka dapat dari semua repositori akses terbuka di internet. Unpaywall menyediakan ekstensi untuk Chrome atau Firefox.

Open Access Button ini mirip dengan apa yang dilakukan Unpaywall, yaitu menjadikan sains menjadi terbuka. Mereka terhubung dengan ribuan repositori, dan jika artikel yang kita cari belum tersedia, mereka akan mengirim permintaan kepada penulis untuk membuat artikel itu tersedia bagi publik. Semakin banyak orang mencoba menemukan artikel melalui situs ini, semakin banyak permintaan yang didapat oleh penulis. Anda dapat mencari artikel / makalah langsung dari situs ini, atau bisa juga mengunduh ekstensi untuk Chrome.

Library Genesis adalah situs database lebih dari 5 juta makalah, artikel, jurnal, dan buku non-fiksi. Situs ini juga memiliki komik, buku fiksi, dan buku dalam banyak bahasa non-Inggris. Semua data dapat diakses secara legal dan gratis.

Situs ini bisa diakses di sci-hub.im dan sci-hub.tw. Science-Hub bekerja dengan cara yang sangat berbeda dari tiga situs lainnya: peneliti, mahasiswa, dan akademisi lainnya menyumbangkan akun kelembagaan mereka ke Sci-Hub, dan ketika kita mencari makalah mereka mengunduhnya melalui akun tersebut. Setelah artikel diunduh, mereka menyimpan salinannya di server mereka sendiri. Kita pada dasarnya dapat mengunduh 99% dari semua artikel dan makalah ilmiah di Sci-Hub. Cukup masukkan DOI untuk mengunduh makalah yang kita butuhkan secara gratis.

Sci-Hub diluncurkan oleh Alexandra Elbakyan pada tahun 2011 dengan tujuan memberikan akses gratis makalah / artikel ilmiah kepada semua orang, khususnya bagi saya yang tidak memiliki cukup uang untuk membayar jurnal. Banyak komunitas ilmiah memuji Science-Hub karena memajukan pengetahuan umat manusia dan membantu akademisi dari seluruh dunia. Sci-Hub telah digugat berkali-kali oleh penerbit raksasa seperti Elsevier, akan tetapi sampai saat postingan ini dipublish, situs tersebut masih bisa diakses.
***
Demikian informasi yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan makalah penelitian dan artikel ilmiah, jika pembaca memiliki informasi selain empat situs di atas, silakan untuk berbagi di kolom komentar atau mengirimnya di sini.

Unduh Makalah Penelitian dan Artikel Ilmiah gratis

SedLog
SedLog merupakan software geologi untuk membuat grafik kolom stratigrafi. Software ini dibuat oleh Geologist untuk Geologist. User interface yang intuitif, sehingga mudah dioperasikan. Hasil grafik dapat dieksport ke format PDF, SVG atau JPEG untuk diolah lagi menggunakan software grafik lain atau bisa langsung dipublikasi. Software ini juga dapat meng-inport atau export data log dalam format CSV (excel file). Pengguna dapat mencetak hasil grafiknya dalam berbagai ukuran kertas. Fungsi-fungsi seperti Zoom In, Zoom Out, Fit page, Fit Height and Fit Width juga disediakn untuk memungkinkan pengguna menyesuaikan tampilan pada layar komputer. Software SedLog ini dapat digunakan untuk penelitian dan pembelajaran secara gratis.

SedLog - Free Geological Software
Tampilan log stratigrafi pada software SedLog (rhul.ac.uk)

Membuat Grafik Log

Dengan software ini kita dapat membuat grafik log dengan memasukan data log baik pada pilihan menu atau toolbar: Edit > Add Bed, atau dengan cara klik kanan > Add Bed. Setelah itu dialog box akan muncul, kita dapat memasukan informasi lapisan batuan seperti: ketebalan, fasies, ciri kontak, litologi, ukuran butir, struktur sedimen, kandungan fosil, dll. Semua data ini dapat diedit selanjutnya jika kita salah memasukan informasi.

SedLog - Membuat Grafik Log
SedLog dialog box - memasukan informasi lapisan batuan

Download SedLog

Petunjuk install:

Software desain grafis lainnya (free and open source): Inkscape

Referensi:
"SedLog: a shareware program for drawing graphic logs and log data manipulation", D. Zervas, G.J. Nichols, R. Hall, H.R. Smyth, C. Lüthje and F. Murtagh, Computers & Geosciences, 35, 2151-2159, 2009

SedLog 3.1 - Software Geologi Membuat Grafik Kolom Stratigrafi

Apa yang dimaksud dengan “Georeferencing” ?

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global MapperGeoreferencing adalah proses memasukan data informasi geografis ke dalam gambar digital (bisa berupa foto udara, gambar peta topografi atau peta geologi hasil scan), sehingga software pemetaan dapat 'membaca' gambar tersebut sesuai dengan lokasi yang sebenarnya.



Tahapan Georeferencing - Global Mapper


  • Buka program Global Mapper 
  • Klik “open data files”, cari file yang akan anda pakai (Gambar 1). Disini saya menggunakan file gambar Peta RBI lembar Wori dari Ina-Geoportal.
  • Akan muncul “select position to use for layer”.
  • Pilih “manual rectify image”, (Gambar 2) centang “use selected option . . . .”, klik Ok

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 1. Open data files - Global Mapper

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 2. Manual rectify image - Global Mapper

  • Akan muncul tampilan “image rectifier” (Gambar 3)
  • Setting projection yang akan anda pakai, disini saya menggunakan Geographic, datum WGS84. Anda bisa memilih UTM, dll.
  • Zoom ke bagian gambar yang diketahui koornidatnya, gunakan tombol kiri mouse.
  • Disini saya memilih sudut peta, karena setiap sudut peta RBI memiliki informasi koordinat XY (Gambar 4).

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 3. Image rectifier - Global Mapper

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 4. Lokasi yang diketahui koordinatnya - Global Mapper

  • Buatlah titik tepat di tengah perpotongan garis lintang dan garis bujur (Gambar 5).
  • Agar lebih akurat, zoom lagi sampai terlihat pixel gambarnya.
  • Jika posisi titik melenceng, posisikan titik ke pixel yang paling sentral (Gambar 6).
  • Setelah yakin sudah sentral, zoom out, dan mulailah menambahkan koordinat titik yang ada pada sudut gambar peta (Gambar 7).

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 5. Menentukan titik lokasi koordinat yang diketahui - Global Mapper

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 6. Mengoreksi titik lokasi koordinat - Global Mapper

  • Diketahui koordinat titik : 124°45’ U (Bujur Timur) – 1° 48’ U (Lintang Utara)
  • Isi nilai 124 45 di kolom X/Easting/Lon, dan nilai 1 48 di kolom Y/Norting/Lat
  • Klik “add point to list” untuk menambahkan.
  • Tambahkan lagi titik di bagian lain dari gambar. Untuk georeferencing lakukan minimal 3 titik.

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 7. Memasukan data koordinat - Global Mapper

  • Berikut hasil tampilan 3D pada Global Mapper setelah georeferencing (Gambar 8)
Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 8. Tampilan 3D - Global Mapper

Export file raster - Global Mapper


  • Pada menu bar, pilih “file” > “export” > “export raster image format” (Gambar 9)
  • Muncul pop-up “select export format” > pilih “GeoTIFF” (Gambar 10)
  • Pada “geotiff option” > pilih “24bit RGB”
  • Klik OK, kemudian “save”.
  • File GeoTIFF tersebut bisa digunakan pada Global Mapper dan ArcGIS tanpa harus melakukan georefercing lagi.

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 9. Export raster file - Global Mapper

Ilustrasi Georeferencing - Tutorial Global Mapper
Gambar 10. Export raster format - Global Mapper

Download Tutorial

Tutorial Global Mapper - Georeference dan Export Raster

Penyusunan peta geologi di wilayah daratan Indonesia telah dilaksanakan sejak awal abad ke 19. Dimulai oleh penjelajahan yang dilakukan Junghuhn (1809-1864), kegiatan pemetaan geologi pada awalnya lebih mengarah pada penyelidikan geologi untuk mendukung eksplorasi. Perkembangan selanjutnya kegiatan ini tidak saja untuk mendukung penyediaan sumberdaya mineral dan energi , akan tetapi telah berkembang sebagai pendukung sektor pembangunan lainnya. Berbagai sekala peta geologi kemudian dihasilkan baik secara bersistem ataupun peta bertema.

Definisi Peta Geologi


  • Peta geologi adalah bentuk ungkapan data dan informasi geologi suatu daerah/wilayah/kawasan dengan tingkat kualitas berdasarkan skala.
  • Peta geologi menggambarkan informasi sebaran dan jenis serta sifat batuan, umur, stratigrafi, stuktur, tektonika,fisiografi dan sumberdaya mineral serta energi.
  • Peta geologi disajikan berupa gambar dengan warna, simbol dan corak atau gabungan ketiganya. Penjelasan berisi informasi, misalnya situasi daerah, tafsiran dan rekaan geologi, dapat diterangkan dalam bentuk keterangan pinggir.

Daftar Peta Geologi skala 1:250.000 di bawah ini bersumber dari Badan Geologi - Kementerian ESDM Republik Indonesia. Total peta ada 233 lembar, yang terdiri dari:
  • Sumatera (47 lembar)
  • Kalimantan (43 lembar)
  • Jawa Barat (21 lembar)
  • Jawa Tengah (18 lembar)
  • Jawa Timur (18 lembar)
  • Bali, NTT, NTB (14 lembar)
  • Sulawesi (22 lembar)
  • Maluku (15 lembar)
  • Irian (35 lembar)

Untuk peta geologi skala rinci (1:50.000) bisa melakukan permohonan data ke Geomap - Badan Geologi, sedangkan panduan penyusunan peta geologi bisa merujuk ke SNI 13-4691-1998.

Download Peta Geologi Indonesia 1:250.000 disini


Semua file Peta Geologi berformat .jpg

Peta Geologi Seluruh Indonesia

Geol Map Data Extractor (GMGD)
Geol Map Data Extractor adalah program yang dibuat oleh Rick Allmendinger berfungsi untuk mengekstrak informasi dari peta geologi (raster/scan) atau peta lain yang skalanya diketahui. Banyak jenis peta tersedia gratis secara online di Badan Geologi dan Badan Informasi Geospasial (BIG), atau pun Anda dapat memindai peta Anda sendiri. GMDE dapat membaca peta berformat .jpg, .jp2, .png, .tif, dan .pdf.

Geol Map Data Extractor (GMGD)
Geol Map Data Extractor (Allmendinger, R. W., and Judge, P. A., 2013)

Dengan software ini kita dapat: melakukan georeferensi dan mengatur sistem koordinat peta, digitasi simbol strike/dip, menghitung orientasi batuan menggunakan problem 3 titik, mengekstrak data strike/dip untuk dianalisis menggunakan lasso tool, mengukur ketebalan litologi baik menggunakan metode problem 3 titik maupun data strike/dip, digitasi kontak batuan, rekonstruksi lipatan, membuat penampang dengan data kontak dan kemiringan semu, dll.

Download Geol Map Data Extractor:


Reference:
Allmendinger, R. W., and Judge, P. A., 2013, Stratigraphic uncertainty and errors in shortening from balanced sections in the North American Cordillera: Geological Society of America Bulletin, v. 125, no. 9/10, p. 1569-1579, doi:10.1130/B30871.1.

Geol Map Data Extractor 7.5 - Software Analisis Data Kuantitatif Peta Geologi

Stereonet 11Stereonet 11 adalah software geologi gratis yang berfungsi untuk plot data struktur pada stereonet secara digital. Seperti lines, planes, rose diagram, contour, cylindrical best fit, conical best fit, dan mean vector. Software ini memungkinkan kita untuk melakukan analisis seperti; pole to planes atau planes to poles, rotate data, unfold bedding, fisher vector distribution, bingham axial distribution, von mises distribution, hitung sudut antara lines/planes, apparent dip calculator, axial plane finder, dan slope stability analysis. Bahkan poin dengan data lokasi dapat secara langsung diplot pada Google Earth.

Stereonet 11

Stereonet 11 merupakan versi terbaru dan telah mengalami banyak perbaikan dan peningkatan dari versi sebelumnya (Stereonet 10), dengan struktur data internal yang benar-benar baru dan vitur tampilan 3D openGL. Versi Stereonet ini kompatibel dengan semua sistem operasi (Windows / Mac OS) dan user interface nya mudah dipahami.

Download Stereonet 11


Untuk pengguna iOS, Stereonet hadir dalam versi mobile, silakan download di App Store.

Jurnal terkait:
Cardozo, N. and Allmendinger, R.W. 2013. Spherical projections with OSXStereonet. Computers and Geosciences 51, 193-205.

Stereonet 11 - Software Pengolahan Data Struktur Geologi


Pada umumnya petrologis tidak mengkomunikasikan jenis batuan dalam jumlah dan angka, mereka membutuhkan nomenklatur khusus, yang konsisten, yang membagi spekturm komposisi batuan yang luas ini menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, seperti halnya negara dibagi menjadi kabupaten dan distrik untuk tujuan administratif.
Batuan Beku. Klasifikasi.

Nomenklatur batuan beku saat ini mengacu pada tiga jenis pengamatan, yang masing-masing dapat mempengaruhi nama batuan:

  • Pengamatan petrografi kualitatif (misalnya ada atau tidak adanya kuarsa);
  • Data petrografi kuantitatif (misalnya persentase kuarsa dalam batuan);
  • Komposisi kimia (misalnya posisi dalam diagram TAS).

Klasifikasi batuan beku secara kualitatif - ukuran butir


Gambar 1 menunjukkan bagaimana batuan beku dibagi menjadi tiga kategori; berbutir kasar, sedang dan halus, berdasarkan perkiraan kualitatif (atau semi kuantitatif) dari rata-rata ukuran butir masa dasar pada batuan (bukan ukuran fenokris). Perkiraan ini dapat dilakukan pada pengamatan megaskopis (hand-specimen) atau mikroskopis (sayatan tipis). Berdasarkan kategori ukuran butir, maka pada batuan basaltik, misalnya; berbutir halus dapat disebut basal, berbutir sedang dapat disebut dolerite (UK) atau diabas (US), dan berbutir kasar dapat disebut gabro.

klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral
Gambar 1. Klasifikasi batuan beku berdasarkan ukuran butir mineral masa dasar. Batas antara berbutir sedang dan berbutir kasar (3mm) mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada acuan lain, misalnya, Cox et al., (1988) menggunakan 5mm.

Contoh lain dari pengamatan kualitatif yang digunakan dalam pengklasifikasian batuan beku adalah kehadiran kuarsa atau nepheline dalam batuan, yang menunjukkan apakah batuan tersebut silica-oversaturated atau silica-undersaturated.

Klasifikasi berdasarkan proporsi mineral - indeks warna


Kata sifat seperti 'ultramafic' dan 'leucocratic' mengacu pada proporsi relatif dari mineral-mineral gelap dan terang yang terdapat pada batuan beku, di mana 'gelap' dan 'terang' berhubungan dengan kenampakan mineral pada pengamatan hand-specimen, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Mineral gelap dikenal sebagai mineral mafik atau ferromagnesian; mineral terang juga dikenal sebagai mineral felsic. Persentase mineral gelap digunakan sebagai indeks warna pada batuan beku.

klasifikasi batuan beku berdasarkan indeks warna dan presentase mineral gelap terang
Gambar 2. Klasifikasi batuan beku berdasarkan presentase mineral gelap dan terang yang teramati pada pengamatan hand-specimen atau sayatan tipis.

Perhitungan kuantitatif dari proporsi mineral pada sayatan tipis mengandalkan teknik yang dikenal sebagai point counting. Teknik ini menggunakan perangkat khusus pada stage mikroskop, yang dapar memindahkan slide sayatan tipis bergerak maju/mundur pada arah X dan Y. Perhitungan dilakukan mulai dari titik dekat salah satu sudut slide, geologist mengidentifikasi mineral pada setiap titik (mengacu pada cross-hair microskop) saat sayatan tipis berpindah secara sistematis di atas stage, kemudian mencatat jumlah 'klik' dari setiap mineral yang teramati.

Setelah memperoleh titik data yang mencakup seluruh area permukaan dari sayatan tipis, persentase masing-masing mineral dapat dengan mudah dihitung. Karena persentase yang dihitung proporsional dengan luas agregat dari setiap mineral pada permukaan slide, metode tersebut menentukan proporsi mineral relatif berdasarkan volume, bukan berdasarkan massa. Karena sebagian besar mineral gelap secara signifikan lebih padat daripada mineral terang, maka hal yang harus diingat adalah proporsi mineral yang ditentukan dengan metode ini akan berbeda jika dibandingkan dengan hasil analisis geokimia.

Klasifikasi berdasarkan komposisi kimia - asam versus basa


Klasifikasi batuan beku yang pertama kali saya ketahui saat belajar geologi adalah klasifikasi yang membagi batuan menjadi ultrabasa, basa, intermediet dan asam. Klasifikasi ini didasarkan pada kandungan SiO2 dari batuan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 (berdasarkan nilai yang diadopsi oleh International Union of Geological Sciences - IUGS). Klasifikasi ini membutuhkan analisis geokimia, dan inilah letak kekurangannya. Klasifikasi ini tidak dapat digunakan untuk menginterpretasikan batuan ketika saat berada di lapangan atau saat observasi di bawah mikroskop.

klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika SiO2
Gambar 3. Klasifikasi batuan beku berdasarkan kandungan silika (SiO2). Batas antara intermediet dan asam (63% SiO2) dalam klasifikasi ini mengacu pada Le Maitre (2002); sedangkan pada konvensi sebelumnya penempatan batasnya berada pada 65%. Analisis yang digunakan untuk menentukan apakah suatu sampel bersifat ultrabasa, basa, intermediet atau asam harus terlebih dahulu dihitung ulang secara volatile-free.

Penting untuk diketahui bahwa perbedaan yang jelas antara kandungan silika pada batuan (yang biasanya terletak antara 40% dan 75%) dan kandungan kuarsa (kurang dari 30%, atau bahkan tidak ada): silika (SiO2) adalah komponen kimia yang terkandung pada semua mineral silikat, sedangkan kuarsa (yang memiliki komposisi yang sama, SiO2) adalah sebuah mineral dengan komposisi dan struktur kristal khusus. Kuarsa adalah surplus SiO2 pada magma, kuarsa terbentuk dari sisa silika saat setelah semua mineral silikat lainnya telah menyerap bagian dari silika yang ada. Maka dari itu, istilah 'silicic', merupakan istilah yang kurang tepat, yang secara luas digunakan untuk menggambarkan sifat 'asam'.
***

Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan 3 Jenis Pengamatan - Kualitatif, Kuatitatif, dan Komposisi Kimia